BACAJUGA: Nama Pakaian Adat Jawa Timur dan Keunikannya. Itulah pembahasan mengenai nama pakaian adat Kalimantan Barat yang dapat anda ketahui. Pakaian adat yang khas di Kalimantan Barat dikenal unik dan beragam. Namun perbedaan pakaian adat tiap sukunya tidak menyurutkan persatuan pada masyarakatnya yang hidup di satu propinsi yang sama. Rumahadat Nusa Tenggara Barat yang ada di Dusun Sade ini memiliki beberapa macam bale yang semua atapnya terbuat dari jerami atau alang alang serta memiliki fungsi yang berbeda beda. Beberapa jenis bale tersebut diantaranya adalah bale bonter, bale jajar, bale tani, berugag atau sekepat, sekenam, bale tajuk, bale bencingah, bale tajuk, bale UpacaraAdat, Foto Nusa Tenggara Barat, Beautiful Indonesia UMM. Beautiful Indonesia. Indonesia | English Nusa Tenggara Barat [2016-11-29 18:31:50, view 3456] Upacara Perang Topat Pakaian Adat; Upacara Adat; Bahasa Daerah; Lagu Daerah; Kesenian; Pasalnyasetiap pakaian adat menggunakan aksesoris yang berbeda - beda. Referensi: Cerdika.com. Kesimpulan. Setidaknya terdapat 4 suku yang ada di Nusa Tenggara Timur, diantaranya adalah Suku Rote, Suku Helong, Suku Dawan, dan Suku Sabu. Dari keempat suku tersebut memiliki pakaian adat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pakaian PakaianAdat Nusa Tenggara Barat (Suku Sasak) Baju adat tradisional suku sasak NTB (Instagram/@tiya_ochedt) Pulau Lombok di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), didiami oleh sebagian besar suku Sasak. Teleskop Webb Tangkap Gambar Warna-Warni Galaksi Cartwheel, Hasilnya Jernih Banget! Tech. Rabu, 03 Agustus 2022 18:07 WIB. 4WsII. Nusa Tenggara Barat atau NTB yaitu provinsi yang terdiri dari kumpulan pulau-pulau kecil yang tergabung menjadi Kepulauan Nusa Tenggara. Nusa Tenggara Barat atau NTB sendiri, dikelilingi oleh 2 pulau besar yaitu pulau Lombok dan juga pulau Sumbawa. Setiap provinsi termasuk Provinsi Nusa Tenggara Barat ini, tentunya memiliki budaya dan juga ciri khas. Salah satu budaya yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Barat yaitu pakaian adat yang menjadi ciri khas dari Provinsi tersebut. Ingin tahu? Apa aja, pakaian adat Nusa Tenggara Barat atau NTB itu? Yuk langsung simak aja! 1. Pakaian Adat Wanita Lambung NTB2. Pakaian Adat Pria Pegon NTB3. Pakaian Adat Rimpu Suku Bima NTB4. Pakaian Adat Pria Bima NTB5. Pakaian Adat Donggo-Sambori Bima NTB 1. Pakaian Adat Wanita Lambung NTB Pakaian Lambung Wanita yaitu salah satu pakaian adat dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pakaian adat Lambung ini, dipakai oleh wanita dalam rangka menyambut tamu dan upacara adat ā€œMendakin atau Nyongkolā€. Pakain Adat Lambung terdiri dari atasan yaitu baju berwarna hitam dengan kerah yang bentuknya menyerupai huruf V dan tanpa lengan. Sedangkan, buat bawahannya menggunakan kain panjang dengan motif bordir kotak-kotak atau segitiga di bagian tepi. Cara memakai kain bawahan dengan cara dibalutkan ke pinggang. Lalu, dibantu dengan memakai sabuk atau ā€œSabuk Antengā€ yang berupa kain dan ujungnya dijuntaikan di pinggang kiri. Buat aksesoris pemanis dari pakaian Adat Lambung ini, menggunakan manik-manik di bagian tepi jahitan. Bahan yang digunakan yaitu kain pelung. Kemudian, dipadukan dengan selendang yang terbuat dari kain songket khas suku sasak. Akesoris pelengkap Pakaian Adat Lambung NTB yaitu sepasang gelang perak buat tangan dan kaki. Lalu ada juga anting-anting berbentuk bulat dari daun lontar. Supaya makin indah tampilannya, si wanita mengenakan sanggul bermodel ā€œPunjung Plisetā€ yang diselipkan bunga mawar atau cempaka. 2. Pakaian Adat Pria Pegon NTB Pakaian Pegon dari Suku Sasak adalah salah satu pakaian adat Nusa Tenggara Barat, yang biasanya dipakai oleh kaum pria di Nusa Tenggara Barat. Konon pakaian pria NTB Pegon ini merupakan salah satu akulturasi dari kebudayaan Eropa dan Jawa. Untuk model atasannya yaitu jas hitam yang dilengkapi dengan bawahan berupa kain pelung bermotif nangka yang disebut juga Cute. Lalu, aksesoris pelengkap pakaian Adat Pegon ini berupa ikat kepala atau capuq. Bentuknya mirip dengan udeng khas Bali. Kemudian, ada ikat pinggang atau leang yang dibuat dari kain songket yang disulam benang emas. Tambahan aksesoris lainnya yaitu keris yang diselipkan di bagian samping atau belakang ikat pinggang. 3. Pakaian Adat Rimpu Suku Bima NTB Pakaian Adat dari Provinsi Nusa Tenggara Barat berikutnya yaitu Pakaian adat suku Bima yang disebut juga dengan Pakian Adat Rimpu. Model pakaian Adat Rimpu ini mirip dengan mukena. Dimana, bagian atas menutupi kepala sampai bagian perut dan bagian lainnya menutupi perut sampai ke kaki. Baca juga Rumah Adat Nusa Tenggara Barat Pakaian Adat Rimpu ini, memiliki fungsi tersendiri yaitu ā€œRimpu Ciliā€ dipakai oleh wanita yang belum menikah dan pakaian ini menutupi seluruh tubuh kecuali mata. Sedangkan, ā€œRimpu Coloā€ yaitu pakaian adat buat wanita yang udah menikah dan pakaian ini menutupi seluruh tubuh kecuali wajah. 4. Pakaian Adat Pria Bima NTB Pakaian Adat dari Provinsi Nusa Tenggara Barat lainnya yaitu pakaian yang dikhususkan buat kaum pria, yang biasanya memakai ikat kepala dari kain tenun atau Sambolo. Nah, buat model atasan pakaian adat pria Bima Nusa Tenggara Barat yaitu berbentuk kemeja lengan panjang. Sedangkan, buat bawahannya yaitu sarung songket yang disebut Tembe Me’e. Sebagai pemanis dari Pakaian Adat pria Bima dilengkapi dengan ikat pinggang atau Salepe. 5. Pakaian Adat Donggo-Sambori Bima NTB Pakaian Donggo-Sambori merupakan salah satu pakaian adat masyarakat Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat. Pakaian adat Donggo-Sambori yaitu pakaian adat yang memiliki model dengan corak warna dominan hitam yang berhubungan dengan ritual kematian. Lalu, pakaian DonggoSambori ini terdiri dari pakaian ā€œKarabuā€œ berlengan pendek yang dipakai wanita dewasa dan remaja. Model bawahannya yaitu celana panjang yang disebut ā€œDekoā€. Buat aksesoris di kepala, mereka memakai Waku atau Lupe. Waku atau Lupe berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai payung apabila hujan. Penutup kepala ini terbuat dari daun pandan hutan. Dulu, penutup kepala ini dipakai oleh petani dan peternak saat mereka ada di sawah atau padang rumput. Itulah pembahasan lengkap mengenai beberapa Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat. Gimana? Mudah dipahami kan? Semoga ulasan diatas, menjadi penyemangat buat kamu untuk mencintai budaya tanah air, salah satunya NTB ini. Selamat belajar dan semoga bermanfaat šŸ˜€ Originally posted 2021-03-22 133310. Provinsi Nusa Tenggara Barat NTB identik dengan ragam busana tradisional dan kerajinan tenunnya. Pakaian adat NTB mewakili masing-masing suku yang ada di wilayah ini. Setiap bagian busana sarat akan filosofi yang mencerminkan adat dan budaya dari suku-suku tersebut. Latar belakang penduduk yang mayoritas muslim turut pula mempengaruhi bentuk dan cara pemakaian pakaian tradisionalnya. Tak hanya itu, beberapa pakaian adat NTB adalah contoh akulturasi antar suku seperti yang nampak pada pakaian pengantin perempuan Sumbawa. Berikut ini adalah macam-macam pakaian adat yang ada di NTB. Setiap jenis pakaian disertai pula dengan foto atau gambar dan keterangannya. Ragam Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat 1. Pakaian Adat Lambung2. Pakaian Adat Pegon3. Pakaian Adat Rimpu4. Pakaian Adat Katente Tembe5. Pakaian Adat Poro6. Pakaian Adat Poro Rante dan Pasangi7. Pakaian Adat Donggo8. Pakaian adat Suku Sumbawa 1. Pakaian Adat Lambung Pakaian adat Lambung, sumber Suku Sasak adalah salah satu suku asli Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu keahlian masyarakat suku Sasak adalah membuat tenunan. Kain tenunan ini juga menjadi bagian dari pakaian adat suku Sasak. Pakaian adat untuk kaum perempuan suku Sasak dikenal dengan nama Lambung. Pakaian ini sejenis kebaya longgar berlengan pendek. Panjang kebaya sebatas pinggang. Ciri khasnya terletak pada warna dasarnya yang didominasi hitam dengan kerah berbentuk V’. Sebuah selendang songket khas Sasak diletakkan menjuntai pada bahu kanan. Sebagai pemanis bagian belakang baju Lambung ini dibuat agak naik. Model busana ini mirip dengan baju bodo. Sementara untuk bagian bawah adalah berupa sarung atau biasa disebut kemben yang juga berwarna hitam dengan dihiasi motif flora pada beberapa bagian. Ikat pinggang bernama sabuk anteng dipakai untuk mengencangkan kemben. Cara pemakaiannya adalah dengan dililitkan ke pinggang dan menyisakan ujung rumbaian pada sisi kiri. Aksesoris untuk perhiasan telinga adalah berupa anting-anting besar atau disebut sowang. Anting berbentuk bulat ini terbuat dari gulungan daun lontar dengan tambahan aksen dari bahan perak. Aksesoris selanjutnya adalah berupa gelang tangan dan gelang kaki yang gemericing ketika pemakainya berjalan. Pakaian tradisional Sasak juga dikenakan oleh penari dalam membawakan berbagai tarian tradisional. 2. Pakaian Adat Pegon Pakaian adat Pegon, sumber Pakaian adat Pegon diperuntukkan bagi kaum pria suku Sasak. Jenis pakaian adat ini mendapat pengaruh dari budaya Jawa selain juga mengadopsi gaya busana Eropa. Pengaruh budaya Eropa terlihat pada bentuk Pegon yang menyerupai jas yang umumnya berwarna hitam. Konon paduan busana ini melambangkan kegungan dan kesopanan. Pada bagian pinggang dililitkan kain songket yang biasa disebut leang atau dodot dan sebilah keris diselipkan diantaranya. Sebagi penutup pinggang dan bagian bawah tubuh adalah kain dengan wiron yang panjangnya hingga semata kaki. Kain ini memiliki motif campuran antara corak khas Lombok dan batik Jawa. Kain wiron ini mengandung filosofi tentang sikap rendah hati. Pria Sasak juga memakai ikat kepala yang disebut sapuq. Selain melambangkan kejantanan, sapuq juga mengandung makna tentang penghormatan kepada Tuhan yang Esa dan menjaga pikiran pemakainya tetap bersih. 3. Pakaian Adat Rimpu Pakaian adat Rimpu, sumber Suku Bima atau mereka menyebut diri sebagai dou mbojo bermukim di kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Suku ini dikenal dengan tradisi dan budaya yang mendapat banyak pengaruh kuat dari budaya Islam. Hal ini juga terlihat dari pakaian adat orang-orang Bima. Pakaian adat Rimpu dari suku Bima untuk kaum perempuan sangat unik dan khas serta tertutup sebagaimana disyariatkan dalam ajaran Islam. Pakaian adat Rimpu ini sesungguhnya adalah cara berbusana untuk menutup bagian atas tubuh dengan mengenakan kain sarung tenun khas Bima-Dompu atau biasa disebut tembe nggoli oleh masyarakat setempat. Sedangkan untuk bagian bawah tubuh dari pinggang hingga kaki juga mengenakan sarung dimana cara mengenakannya dililitkan seperti biasa kemudian ujungnya diselipkan atau dijepit agar tidak terlepas. Cara pemakaian ini dikenal dengan sebutan sanggentu. Pakaian adat Rimpu untuk perempuan yang sudah menikah, sumber Pakaian adat Rimpu ini secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni Rimpu Mpida dan Rimpu Biasa. Pakaian Rimpu Mpida dikenakan oleh kaum perempuan yang belum menikah. Rimpu Mpida terbagi lagi ke dalam beberapa jenis, salah satunya adalah Rimpu Cili. Sebagai deskripsi, Rimpu Cili menutup sekujur tubuh dan hanya menyisakan bagian mata yang terbuka sehingga menyerupai cadar. Sedangkan Rimpu Biasa dikenakan oleh perempuan yang telah menikah. Sedikit berbeda dengan Rimpu Cili, Rimpu Biasa membiarkan bagian wajah penggunanya tetap terbuka. Sebenarnya tidak hanya suku Bima, suku Dompu juga mengenakan Rimpu sebagai pakaian tradisionalnya. 4. Pakaian Adat Katente Tembe Pakaian adat Katente Tembe, sumber Bila pakaian adat kaum perempuan Bima dikenal dengan nama Rimpu maka pakaian adat atau cara berbusana kaum pria Bima adalah Katente Tembe. Pakaian adat ini juga terdiri dari dua helai kain sarung, tetapi terdapat perbedaan pada cara pemakaiannya. Pada Katente Tembe salah satu sarung dililitkan ke pinggang hingga menutupi lutut sementara yang lainnya diselempangkan ke bahu atau dikenal dengan istilah saremba. Sarung ini tidak hanya dikenakan saat bekerja ke sawah atau ladang namun juga berfungsi saat menunaikan ibadah shalat. Oleh karena itu, konon cara berpakaian Katente Tembe ini mengandung makna tentang kerja keras dan ketaatan dalam beribadah. Selain menjadi pakaian tradisional suku Bima, Katente Tembe juga merupakan busana masyarakat suku Dompu. Banyaknya persamaan antara keduanya karena secara geografis kedua suku bermukim di wilayah yang berdekatan. Penjelasan lain terkait persamaan ini adalah merujuk pada sejarah kedua suku yang masih serumpun. 5. Pakaian Adat Poro Pakaian adat suku Bima, sumber Lembaga Sampela Mbojo Selain busana Rimpu yang mendapat pengaruh dari budaya Islam, masyarakat Bima juga memiliki pakaian tradisional lain yang dikenal dengan nama baju Poro untuk kaum perempuan. Poro adalah baju polos tanpa motif ataupun hiasan. Pakaian ini terbuat dari kain yang meskipun bahan dasarnya tipis tetapi tidak tembus pandang. Terdapat pembagian warna pada baju Poro yang disesuaikan dengan latar belakang pemakainya. Baju Poro yang didominasi warna-warna gelap seperti hitam, biru tua, cokelat tua, dan ungu dikenakan oleh para ibu. Sementara warna merah diperuntukkan bagi para gadis. Keluarga bangsawan sendiri mengenakan warna kuning dan hijau. Sebagai pasangan baju Poro yang dikenakan sebagai bawahan adalah sarung Palekat dengan motif kotak-kotak yang dipakai hingga ke mata kaki. Sementara untuk aksesoris adalah berupa gelang dan anting. 6. Pakaian Adat Poro Rante dan Pasangi Pakaian Pengantin suku Bima, sumber Poro Rante adalah merupakan pakaian adat untuk pengantin perempuan Bima. Poro Rante berwarna merah dengan hiasan cepa atau bunga emas yang memenuhi permukaan bidang baju. Baju ini dipadukan dengan kain songket atau tembe songke dengan motif bunga kakando, samobo, atau satako. Songket ini dikenakan dengan ikat pinggang berwarna keemasan bernama salepe. Sebagai pelengkap adalah sapu tangan atau pasapu yang terbuat dari bahan sutera dengan sulaman benang perak. Di masa lalu pengantin tradisional Bima mengenakan aksesoris sebagai hiasan rambut yang dibuat dari gabah padi atau keraba. Hiasan kepala lain yang umum dikenakan pada pengantin perempuan Bima adalah kembang goyang atau Jungge dondo berupa kembang panjang yang terbuat dari manik-manik. Selain itu, aksesoris lainnya berupa anting-anting yang dinamakan bangko dondo dan gelang atau biasa disebut ponto yang semuanya berwarna keemasan. Sementara pakaian adat pengantin pria Bima bernama Pasangi. Pakaian adat ini terdiri dari baju lengan panjang berwarna merah, cokelat, atau hitam. Sementara pakaian berwarna hijau atau kuning diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Pakaian ini bersulam benang emas atau perak, kemudian dipadukan dengan bawahan berupa celana panjang atau biasa disebut sarowa dondo yang juga dihiasi sulaman benang emas atau perak. Selanjutnya adalah kain songket yang biasa disebut sarung siki atau tembe siki dikenakan di luar celana panjang. Baba berupa ikat pinggang besar biasanya berwarna merah atau cokelat. Sedangkan salepe atau ikat pinggang dikenakan diluar baba. Kemudian sebilah keris atau biasa disebut sampari diselipkan pada sisi kiri depan di dekat rusuk. Keris ini bagian hulunya ditutup dengan sehelai sapu tangan kuning yang dalam bahasa setempat disebut pasapu monca. 7. Pakaian Adat Donggo Pakaian perempuan Donggo, sumber Donggo salah satu suku yang ada di Kabupaten Bima. Masyarakat Donggo mendiami kawasan pegunungan dan dataran tinggi Bima. Suku ini memiliki pakaian tradisional yang berbeda coraknya dari suku lainnya di Bima. Ciri khas yang menonjol pada pakaian suku ini adalah didominasi oleh warna hitam. Warna hitam ini identik dengan ritual kematian yang dilakukan oleh suku ini pada masa lampau. Pada laki-laki tua dan dewasa pakaian tradisionalnya berupa baju berkerah dengan warna hitam atau biru tua. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat kepala sambolo dengan warna yang sama yang bercorak kotak-kotak. Pelengkap pakaian lainnya adalah berupa ikat pinggang atau salongo yang terbuat dari benang kapas dan ditenun sendiri. Sementara untuk remaja laki-laki juga mengenakan pakaian yang dibuat dari benang kapas berwarna hitam yang dihiasi corak garis-garis putih. Pakaian ini memiliki model leher bundar seperti kaos yang disebut baju mbolo wo’o. Sebagai pelengkap adalah salongo berwarna merah atau kuning yang fungsinya sebagai tempat menyematkan pisau. Sedangkan untuk wanita tua dan dewasa mengenakan pakaian yang disebut kababu yakni berupa baju hitam pendek yang terbuat dari benang katun. Sebagai bawahan adalah berupa celana dengan panjang di bawah lutut yang dinamakan deko. Selain itu, kaum perempuan dewasa mengenakan sarung yang dalam bahasa setempat dinamakan tambe me’e. Sarung berwarna hitam atau biru tua ini dililitkan di luar deko. Pakaian ini kemudian dilengkapi dengan aksesoris berupa giwang dan kalung dari manik-manik berwarna merah. Sedangkan pakaian untuk remaja perempuan suku Donggo bernama kani dou sampela. Potret gadis Donggo dalam pakaian tradisional, sumber Sama halnya seperti perempuan dewasa, remaja perempuan mengenakan kababu dilengkapi dengan bawahan berupa deko berbentuk segitiga yanng panjangnya hingga ke lutut. Sementara untuk sarung khas Donggo atau tembe Donggo juga berwarna hitam dengan motif kotak-kotak putih yang diikatkan ke pinggang dikenakan luar deko. Aksesoris untuk remaja putri adalah kalung manik-manik merah yang dibiarkan menjuntai hingga ke dada. 8. Pakaian adat Suku Sumbawa Pakaian dan sarung khas Sumbawa, sumber Suku Sumbawa yang dikenal juga dengan nama Samawa mendiami wilayah Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat. Suku ini menyebut diri mereka sebagai Tau Samawa. Suku Sumbawa memiliki kerajinan khas berupa songket yang dibuat dari benang katun, dan dihias dengan benang emas dan perak. Songket khas Sumbawa ini dinamakan Kere’ Alang. Pakaian adat wanita Sumbawa bernama lamung pene yang berupa baju kebaya lengan pendek. Sedangkan untuk bagian bawah adalah tembe lompa yakni berupa sarung songket dengan motif kotak-kotak. Kain ini dikenakan hingga semata kaki. Lamung Pene, sumber Ikat pinggang perak menjadi aksesoris pelengkapnya di samping sapu tangan atau sapu to’a yang diselempangkan pada bahu kiri. Aksesoris lainnya berupa kalung, hiasan telinga yang dinamakan bengkor troweh, dan gelang tangan. Pakaian adat laki-laki Sumbawa dinamakan Lamung. Pakaian ini memiliki model serupa jas lengan panjang yang tertutup bagian atasnya. Sebagai bawahan adalah berupa celana panjang yang disebut saluar belo. Celana panjang ini dilengkapi dengan songket yang fungsinya seperti dodot. Perhiasan kepala kaum pria adalah berupa ikat kepala sapu dengan motif kotak-kotak. Ikat kepala ini dari tenunan yang terbuat dari benang katun Sumbawa. Lain lagi dengan pakaian pengantin Sumbawa. Pakaian adat Pengantin Sumbawa, sumber Pengantin perempuan mengenakan pakaian yang berbeda dari pakaian adat biasa. Pakaian pengantin untuk wanita golongan bangsawan adalah berupa baju dengan lengan pendek atau disebut lamung yang bentuknya menyerupai baju bodo dari dari Sulawesi Selatan. Konon hal ini dikarenakan pengaruh pakaian tradisional masyarakat Bugis yang memang banyak bermukim di wilayah ini pada masa lampau. Pada hampir seluruh bagian baju diberi hiasan sulaman emas berbentuk bunga. Sebuah sapu tangan atau kida sanging dengan motif daun berwarna emas atau perak disampirkan di bahu kiri. Sebagai bawahan menggunakan rok panjang atau dapat juga berupa rok pendek yang dihiasi motif bunga senada dengan baju. Selain itu pengantin juga mengenakan kalung dan gelang yang terbuat dari emas yang dinamakan ponto atau kelaru. Selanjutnya hiasan kepala menggunakan kembang goyang, aksesoris ini juga banyak dikenakan oleh para pengantin dari berbagai daerah lainnya hanya saja bentuknya berbeda. Pengantin laki-laki Sumbawa mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam bernama gadu yang dihiasi bunga emas atau cepa. Sebuah kain seperti selendang berwarna merah dengan motif bunga bernama simbangan diselempangkan di atas gadu. Sebagai bawahan adalah celana panjang berwarna hitam dengan hiasan bunga pada tepi-tepinya. Pada bagian luar celana dililitkan sebuah kain yang dibentuk meyerupai rok atau biasa disebut tope. Ikat pinggang atau pending dikenakan sebagai penahan tope. Selanjutnya sebagai hiasan kepala adalah berupa mahkota yang biasa disebut pasigar. Mahkota ini terbuat dari kain yang dilipat berbentuk kipas dengan motif daun dan bunga emas. Sebagai pelengkap pakaian pengantin pria adalah sebilah keris yang diselipkan pada pending. Demikianlah pakaian adat yang ada di Nusa Tenggara Barat. Pakaian tradisional di Indonesia saat ini sudah banyak ditinggalkan dan tidak lagi menjadi pakaian sehari-hari. Gaya hidup modern dan kepraktisan menjadi alasan utamanya. Sementara beberapa pakaian adat masih bertahan dan digunakan pada momen-momen tertentu seperti pada acara pernikahan. Melestarikan pakaian adat dan tradisional adalah bagian dari memelihara adat dan budaya bangsa. Kali ini redaksi selanjutnya akan mengenalkan kepada pembaca setia, tentang pakaian adat atau baju adat dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Disalin dari Provinsi Nusa Tenggara Barat atau NTB adalah suatu wilayah yang terletak di kepulauan Nusa Tenggara yang terdiri dari gugusan pulau kecil. Di antara deretan pulau ini, ada dua yang berukuran terbesar yaitu pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pulau Lombok mayoritas dihuni oleh suku Sasak sedangkan pulau Sumbawa mayoritas dihuni oleh suku Bima. Bila kita mengulas tentang pakaian adat Nusa Tenggara Barat, maka tak akan luput dari kebudayaan dari ke-2 suku ini, karena keduanya mempunyai keunikan dan ciri khas masing-masing. Berikut ini kami bahas Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat, NTB Lengkap Dan Penjelasannya, dibawah ini Meskipun terdiri dari dua budaya yang dominan, di tingkat Nasional, budaya suku Sasaklah yang sering dikemukakan. Hal tersebut disebabkan karena secara keseluruhan, suku Sasak merupakan suku mayoritas di Provinsi NTB dengan jumlah sebesar 68% dari populasi penduduknya. Pakaian adat suku Sasak yang saat ini masih bisa kita temukan sebagai bukti kebudayaannya adalah pakaian adat yang bernama Lambung dan Pegon. Tentu busana adat ini cukup unik dengan karakteristiknya yang khas. Mari kita simak penjelasannya berikut ini Pakaian Adat Lambung, Wanita-NTB, foto Pakaian Adat NTB Lambung Untuk Wanita Pakaian adat lambung yaitu pakaian adat NTB yang dikenakan khusus bagi wanita pada waktu menyambut kedatangan tamu dan pada saat upacara adat yang dikenal dengan nama Mendakin atau Nyongkol. Pakaian tersebut berbentuk baju dengan warna hitam dengan bentuk kerah huruf ā€œVā€, tanpa lengan, dan dihiasi manik-manik pada tepian jahitan. Pakaian ini dipakai bersama dengan selendang yang bercorak Ragi Genep pada bahu kanan atau kiri penggunanya. Selendang ini terbuat dari bahan kain songket khas suku sasak. Untuk busana bawahan, dipakai kain panjang yang dibalutkan pada pinggang. Kain ini bermotif bordir kotak atau segitiga di tepinya. Guna memperkuat balutan kain, dipakai sebuah sabuk anteng atau ikat pinggang berbentuk kain yang ujungnya dijuntaikan ke pinggang kiri. Pemakaian busana adat lambung untuk wanita biasanya dilengkapi dengan aneka ragam aksesoris antara lain sepasang gelang tangan dan gelang kaki berbahan perak, anting-anting berbentuk bulat yang dibuat dari daun lontar sowang, dan bunga cempaka atau mawar yang terselip di sanggulan rambut yang bermodel Punjung Pliset. Pakaian Adat Sasak Lombok-NTB, foto Pakaian Adat NTB Pegon untuk Laki-laki Baju pegon khusus dipakai oleh kaum laki-laki. Baju tersebut dipercaya dari hasil adaptasi kebudayaan Eropa dan Jawa yang dibawa ke Nusa Tenggara Barat di masa lampau. Baju ini berbentuk jas hitam sebagaimana jas biasa. Sedangkan untuk bawahannya, dipakai Wiron atau Cute yaitu batik bermotif nangka berbahan kain pelung hitam. Masih ada beberapa aksesoris lain yang dipakai untuk melengkapi keindahan pakaian adat NTB untuk kaum pria Sasak ini selain Pegon dan Wiron. Aksesoris ini berupa ikat kepala bernama capuq berbentuk mirip udeng khas Bali, ikat pinggang bernama leang berbentuk kain songket bersulam benang emas, dan keris terselip di samping atau belakang ikat pinggang. Selain beberapa aksesoris di atas, khusus bagi para pemangku adat juga memakai selendang umbak dengan warna putih, merah, hitam dengan panjang sekitar 4 meter. Pakaian Adat Suku-Bima-NTB, foto Pakaian Tradisional Suku Bima Pakaian adat suku NTB suku Bima dikenal dengan nama Rimpu. Bentuk Rimpu sangat mirip dengan bentuk mukena, yaitu satu bagian menutupi kepala sampai perut dan satu bagian lainnya menutupi perut hingga kaki. Pakaian Adat Suku Bima NTBPakaian Adat Suku Bima NTB Dari bentuk Rimpu ini membuktikan bahwa pengaruh kebudayaan Islam di masyarakat suku Bima sangatlah kuat. Adapun, Rimpu sendiri berdasar fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu, Rimpu Cili khusus bagi perempuan yang belum menikah dan Rimpu Colo bagi perempuan yang telah menikah. Rimpu Cili menutupi seluruh tubuh penggunanya kecuali mata, sedangkan Rimpu Colo menutupi seluruh tubuh kecuali wajah. Bagi kaum laki-laki Bima, mengenakan ikat kepala dari kain tenun dengan nama Sambolo. Sambolo dikenakan dengan ujung-ujung melingkari kepala. Busana atasan pria berbentuk kemeja lengan panjang sedangkan bawahannya berbentuk sarung songket yang bernama Tembe Me’e. Busana bawahan dilengkapi selendang yang berfungsi sebagai ikat pinggang atau Salepe. Demikian pembahasan tentang Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat, NTB Lengkap dan penjelasannya. Semoga menambah wawasan Anda tentang keragaman budaya nusantara khususnya pakaian adat daerah di Indonesia. Nusa Tenggara Barat atau seringkali disingkat menjadi NTB terdiri dari beberapa suku yang mendiami wilayah tersebut. Suku-suku tersebut adalah suku Sasak, suku Bima, dan suku Sumbawa, ditambah dengan adanya suku pendatang seperti suku Bali dan suku suku yang mendominasi wilayah tersebut mempunyai kebudayaan khas yang membuat NTB semakin kaya. Bentuk kebudayaan yang terbilang unik dan patut untuk kamu ketahui dari NTB adalah pakaian adat yang mana juga dipengaruhi oleh tiga suku besar yang mendiami wilayah NTB. Keseluruhan penjelasan mengenai pakaian adat NTB ini dapat kamu simak selengkapnya Isi1 Pakaian Adat Suku Pakaian Adat Pakaian Adat Pegon2 Pakaian Adat Suku Bima3 Pakaian Adat Suku SumbawaPakaian Adat Suku SasakJika dilontarkan pertanyaan, suku manakah yang paling mendominasi wilayah NTB? Maka, suku Sasak menjadi jawabannya. Mayoritas dari suku Sasak ini mendiami wilayah Pulau Lombok. Masyarakat suku Sasak terkenal dengan kecerdikannya membuat kain tenun yang begitu tenun yang dibuat oleh suku Sasak ini dijadikan sebagai bagian dari pakaian adat mereka. Nah, mengenai pakaian adat dari suku Sasak, terdapat dua nama pakaian adat NTB yang terkenal yaitu pakaian adat lambung dan pakaian adat pegon. Ikuti penjelasan selanjutnya untuk mengenal tentang keunikan kedua pakaian adat suku Sasak juga 10 Suku Nusa Tenggara Serta PenjelasannyaPakaian Adat LambungSumber adat lambung merupakan nama pakaian adat NTB suku Sasak yang dipakai oleh wanita. Pakaian adat ini berupa baju hitam yang tidak mempunyai lengan dan kerahnya berbentuk ā€œVā€ seperti ada pada gambar pakaian adat NTB suku Sasak yang tertera. Bahan yang dipakai untuk membuat pakaian adat lambung adalah pelung. Sebagai bawahan, para wanita menggunakan kain panjang yang panjangnya selutut hingga mata panjang tersebut dihiasi dengan bordiran di bagian tepinya bermotifkan segitiga maupun kotak-kotak. Untuk memperindah tampilan pakaian adat lambung, beberapa aksesoris dikenakan oleh para wanita diantaranya selendang bermotifkan ragi genep yang menjadi kain songket khas dari Sasak, ikat pinggang yang dinamai sabuk anteng, gelang tangan, gelang kaki perak, dan sowang atau anting-anting dari bagian rambut, diikat dengan rapi dan diberikan hiasan bunga cempaka dan mawar. Tetapi, ada pula wanita yang menghias rambutnya dengan disanggul menggunakan model punjung pliset. Pada awal mulanya, pemakaian pakaian adat lambung dikenakan tanpa alas kaki dan pakaian dalam. Namun, saat ini sudah dimodifikasi menyesuaikan dengan perkembangan zaman dengan menambahkan baju dalam serta alas kegunaannya, pakaian adat lambung lebih sering dipakai oleh wanita Sasak saat menyambut tamu atau dalam upacara mendakin atau nyongkol. Dalam upacara adat ini, para wanita biasanya akan bertindak selaku pembawa Adat PegonSumber adalah pakaian adat NTB dari suku Sasak yang diperuntukkan bagi pria. Nama pakaian adat NTB suku Sasak ini adalah pegon. Pegon ini merujuk pada baju yang bentuknya berupa jas berwarna gelap. Konon, pakaian adat pegon ini masih ada pengaruh dari adat tradisi bagian bawahan, pria Sasak memakai wiron atau cute. Wiron ini merupakan batik Jawa yang bermotifkan tulang nangka. Cara pemakaiannya juga sama dengan pemakaian di Jawa dan Sunda yaitu menjuntai sampai mata bagian kepalanya, pria Sasak memakai ikat kepala yang dinamai capuq atau sapuk yang bentuknya mirip dengan udeng dari Bali. Penggunaan capuq lebih dikhususkan untuk kegiatan sehari-hari, sedangkan untuk upacara adat, yang dikenakan adalah ikat kepala perade berbahan songket untuk ikat pinggang dinamai dengan leang atau dodot yang bermotifkan benang mas. Ikat pinggang ini dipakai untuk upacara adat, sementara itu untuk aktivitas sehari-hari, ikat pinggang yang dipakai berupa kain songket yang bermotifkan ragi dari ikat pinggang ini sebenarnya untuk menaruh keris. Keris yang berukuran besar akan diselipkan pada bagian belakang dan keris yang berukuran kecil akan diselipkan di bagian depan. Khusus untuk aksesoris keris ini, bisa digantikan dengan aksesoris lainnya misalnya pemaja atau pisau juga 10 Alat Musik Nusa Tenggara BaratPakaian Adat Suku BimaSumber dengan nama suku satu ini, suku Bima mendiami wilayah Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Suku Bima juga punya nama lain yang dikenal dengan dou mbojo. Pakaian adat yang dimiliki oleh suku Bima ternyata terbilang sangat unik dan punya julukan pakaian adat NTB suku Bima ini dikenal dengan rimpu. Saat kamu perhatikan gambar pakaian adat NTB di atas, terlihat jika rimpu ini punya bentuk serupa mukena. Hal ini menandakan adanya pengaruh agama Islam dalam pakaian rimpu. Oleh karena kemiripan rimpu dengan mukena, banyak yang mengatakan kalau rimpu adalah baju muslimah dari rimpu juga dibilang khas karena menggunakan sarung nggoli, sarung khas dari Kabupaten Dompu. Jenis dari rimpu sendiri dibagi menjadi dua macam yaitu rimpu mpida atau cili dan rimpu colo. Kedua jenis tersebut mempunyai perbedaan pada mpida atau cili dikenakan serupa memakai cadar serta diperuntukkan bagi gadis yang belum menikah. Dalam menggunakan rimpu mpida ini ada beberapa cara yang bisa diikuti dan tak perlu menggunakan alat bantu seperti peniti. Sementara itu, pada rimpu colo, pemakaiannya seperti pemakaian jilbab pada umumnya tanpa cadar. Lalu, untuk rimpu colo diperuntukkan bagi wanita yang telah hanya kaun wanita saja yang bisa mengenakan pakaian adat, para kaum pria juga memakai pakaian adat yang terdiri dari kemeja lengan panjang sebagai atasan, sarung songket yang disebut dengan tembe me’e sebagai bawahan, ikat pinggang yang disebut dengan salepe, dan ikat kepala yang dinamai Adat Suku SumbawaSumber Sumbawa seringkali juga disebut dengan Samawa berlokasikan di wilayah barat serta tengah dari pulau Sumbawa. Orang Sumbawa sendiri sering menyebut diri mereka sebagai Tau Samawa. Tidak kalah dari suku lainnya di NTB, suku Sumbawa juga punya pakaian adatnya sendiri yang terbagi menjadi pakaian adat wanita dan pakaian adat wanita, nama pakaian adat NTB suku Sumbawa ini dijuluki dengan baju lamung. Bentuknya berupa baju lengan pendek yang dihiasi dengan sulaman benang emas berbentuk bunga. Sebagai bawahan, para wanita memakai rok panjang yang disebut dengan tope belo dan rok pendek yang disebut tope jenis rok tersebut dipakai secara bertumpuk yang mana bagian dalamnya berupa rok panjang dan bagian luar berupa rok pendek. Rok tersebut pun berhiasakan sulaman bentuk bunga. Sehingga, nampak sangat feminin seperti terlihat pada gambar pakaian adat NTB suku Sumbawa di atas. Para wanita juga mengenakan aksesoris yang meliputi gelang atau ponto, kembang goyang sebagai hiasan kepala, sapu tangan atau kida sanging, anting-anting, dan untuk para pria mengenakan atasan yang dijuluki dengan gadu berbentuk baju lengan panjang berwarna hitam. Baju gadu yang dikenakan oleh para pria ini diberikan hiasan motif bunga sulaman dari benang emas. Sebagai tambahan, dikenakanlah kain simbangan yang diselempangkan secara menyilang. Kain simbangan tersebut juga diberi hiasan moif bunga dan umumnya berwarna bagian bawahan, para pria memakai celana panjang yang diberi hiasan di bagian tepinya. Celana tersebut biasanya dilengkapi dengan pemakaian rok pendek yang dibuat dari kain bersulamkan emas pula. Untuk bagian penutup kepalanya, dikenakan penutup kepala bernama juga Pakaian Adat Bali Serta PenjelasannyaItulah sekilas penjelasan tentang pakaian adat NTB dari mulai pakaian adat suku Sasak hingga suku Sumbawa. Masing-masing dari pakaian adat tersebut mempunyai ciri khasnya sendiri-sendiri, dan untungnya sampai saat ini masih aktif dipakai, entah untuk upacara adat atau acara resmi. Hal ini tentu menjadi kebanggaan, dikarenakan pakaian adat ini masih senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Pakaian adat Nusa Tenggara Barat NTB bisa dibilang cukup variatif sesuai dengan suku yang ada di daerah Nusa Tenggara Barat. Baik suku Bima, Suku Sasak maupun orang Sumbawa memiliki pakaian adat tradisionalnya masing-masing. Uniknya lagi ketiga suku terssebut memiliki perbedaaan pakaian adat yang cukup mencolok. Baju Adat Suku Bima Pertama adalah suku Bima. Wanita dari suku Bima memakai baju adat yang disebut rimpu. Pakaian ini menggunakan atau terdiri dari dua lembar sarung tenun. Satu sarung untuk menutup tubuh bagian bawah dan satunya lagi untuk menutup tubuh bagian atas, termasuk kepala. Ada dua jenis rimpu yang ditemui di Suku Bima, yakni rimpu colo dan rimpu cili. Rimpu colo diperuntukkan untuk wanita yang sudah menikah. Pada bagian wajah rimpu ini terbuka sehingga wajah pemakainya dapat dilihat. Sedangkan rimpu cili diperuntukkan bagi wanita yang belum menikah. Bagian atas rimpu cili dipakai dengan menutupi hampir seluruh wajah. Bisa dibilang rimpu ini mirip dengan niqab atau burqa. Satu-satunya bagian yang terbuka hanya pada bagian mata si wanita saja. Sementara kaum pria Bima hanya memakai sarung yang digulungkan di pinggang menutupi bagian pusar. Sarung yang dipakai ini disebut juga tembe nggoli atau sarung songket. Selain itu, pria Bima juga mengenakan sambola atau ikat kepala yang juga terbuat dari kain songket. Baju Adat Suku Sasak Selanjutnya ada pakaian tradisional dari suku Sasak. Wanita suku Sasak memakai pakaian yang disebut lambung. Bahan dasar untuk membuat lambung adalah kain pelung. Bentuk kerah dari pakaian ini berbentuk huruf V V-neck. Pada bagu kanan mereka terdapat selendang yang terbuat dari kain songket. Coraknya senada dengan ikat pinggang yang biasa disebut sabuk anteng. Aksesori lain yang digunakan para wanita adalah gelang, gelang kaki perak, serta anting-anting bulat. Pria suku Sasak memakai busana yang dikenal dengan sebutan pegon dengan ikat pinggang yang disebut leang atau dodot. Leang atau dodot ini terbuat dari songket bermotif benang emas. Fungsi dari ikat pinggang ini adalah sebagai tempat untuk menyelipkan keris. Selain itu, pria Sasak juga mengenakan ikat kepala yang disebut sapuk. Terdapat beragam jenis sapuk, mulai dari sapuk untuk kegiatan sehari-hari hingga untuk upacara adat. Biasanya sapuk untuk harian terbuat dari kain tenun biasa, sedangkan untuk upacara adat memakai songket motif benang emas. Pakaian Adat Sumbawa Kemudian ada pakaian adat dari Sumbawa. Dimana para wanita Sumbawa mengenakan baju lamung berlengan pendek yang mirip baju bodo dari Sulawesi. Atasan ini bersulamkan benang emas yang dibentuk motif bunga. Bawahannya mereka menggunakan tope belo rok panjang dan tope bene sejenis rok pendek. Kedua rok tersebut digunakan secara bertumpuk dengan rok pendek dibagian luar. Keduanya juga dihiasi oleh sulaman motif bunga. Pelengkap atau aksesori yang digunakan, antara lain ponto gelang, hiasan kepala yang dilengkapi kembang goyang, kida sanging sapu tangan, serta kalung juga anting. Laki-laki Sumbawa mengenakan atasan yang disebut gadu atau baju lengan panjang yang berwarna hitam. Tak lupa baju ini juga dihiasi sulaman benang emas bermotif bunga. Kemudian diberi tambahan kain simbangan yang diselempangkan menyilang. Umumnya, kain simbangan ini berwarna merah dengan sulaman bermotif bunga. Untuk bawahannya, mereka menggunakan celana panjang dengan giasan di pinggir kaki celana serta tope semacam rok. Tope ini terbuat dari kain lembut bersulamkan benang emas. Kepala mereka juga menggunakan pasigar, yakni semacam penutup atau ikat kepala dari kain yang dilipat seperti kipas. Dari ketiga macam busana adat diatas, dua diantaranya baju suku Sasak dan Sumbawa masih dipakai sebagai busana pengantin untuk saat ini. Sementara baju adat dari suku bima jarang sekali digunakan untuk pesta perkawinan tradisional orang NTB. Meskipun begitu, masih ada orang Bima yang menggunakan pakaian adat tersebut. Baca Juga Pakaian adat Gorontalo Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat/ NTB Originally posted 2020-11-29 084054.

gambar pakaian adat nusa tenggara barat