Bagikuwanita modern memiliki persona yang hebat yang kadang membuat kita melupakan hakikat sebagai perempuan. Tanpa bermaksud meletakkan posisi perempuan sebagai makhluk lemah, aku belajar bahwa sangat penting bagi wanita untuk hidup seimbang. Wanita boleh bekerja dan mengejar karir, namun jangan lupakan self-care, nurturing, dan istirahat. Seemore of Aku Orang Jawa, yang rindu Kebenaran dan mencari dgn cara Jawa. on Facebook Jaraktersebut bisa mendekat menjadi sekitar 146 juta km sekitar bulan Januari, dan menjauh jadi 152 juta km pada awal Juli. Tapi yang jelas, rentang jarak tersebut sangat pas untuk berlangsungnya kehidupan di Bumi. Hal itu ada hubungannya dengan keberadaan air di Bumi. Laman Science menyebut bahwa jarak Bumi dari matahari sangat tepat karena Tetapkemaruk dan rakus mengeksploitasi bumi atau hidup sederhana dengan menjaga keseimbangan habitat, kini menjadi pilihan. Bagi banyak orang, apa yang tersaji di muka bumi mulai awal 2020 telah menumbuhkan kesadaran baru bahwa kita harus melakukan pengendalian diri. Oksigen menjadi bagian mendasar dari kehidupan di Bumi.Lonjakan elemen oksigen di atmosfer kira-kira 2,5 miliar tahun yang lalu membuat kehidupan multiseluler di planet kita mulai berkembang.. Namun, menurut ilmuwan oksigen bukan satu-satunya elemen dasar bagi kehidupan di Bumi.Ada elemen lain yang juga Mkwn. Hari Bumi kembali kita peringati pada 22 April 2021. Tema perayaan kali ini adalah Merestorasi Bumi Kita, yang berfokus pada proses alami, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, dan gagasan-gagasan inovatif yang dapat turut memulihkan ekosistem Bumi. Pertanyaannya adalah seberapa penting merestorasi ekosistem Bumi? Dan kenapa kita perlu melakukan restorasi ekosistem Bumi? Bumi yang kita tinggali saat ini bukan hanya semakin tua, tetapi juga semakin rusak, dan bahkan mulai sakit-sakitan. Sudah tentu, ikhtiar untuk memperbaiki harus terus dilakukan, ditengah sejumlah upaya sejumlah kalangan mencari koloni lain -yang memungkinkan- sebagai alternatif pengganti Bumi di masa depan. Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Forests and Global Change, kondisi Bumi yang kita huni dewasa ini sangat jauh berbeda dengan 500 tahun silam. Para peneliti menaksir, hanya sekitar 3 persen dari permukaan Bumi yang secara ekologis masih utuh, masih menjadi tempat bagi berbagai spesies asli serta tidak terganggu oleh aktivitas manusia. Ini tentu cukup memprihatinkan. Berdasarkan perkiraan sebelumnya, melalui citra satelit, sekitar 20 persen hingga 40 persen ekosistem daratan Bumi diyakini masih utuh. Baca Ketika Bumi “Memaksa” Umat Manusia Berpuasa Bumi yang sejak akhir Desember 2019 hingga saat ini “diserang” virus corona. Ilustrasi Miroslava Chrienova/Pixabay/Free for commercial use No attribution required Kalau dicermati, banyak aktivitas kita selama ini, baik langsung maupun tidak, yang merusak ekosistem Bumi. Pada dasarnya, ekosistem itu mencakup semua makhluk hidup [hewan, tumbuhan dan mikroorganisme] serta makhluk tak hidup [misalnya iklim, tanah, matahari, cuaca dan atmosfer]. Semua komponen tersebut membentuk lingkungan dan berperan sangat penting bagi semua aktivitas di planet ini. Singkatnya, mereka adalah dasar ekosfer atau biosfer, yang mempengaruhi kesehatan semua sistem di Bumi. Karena kompleksitas dan saling keterkaitan di antara komponen-komponen tersebut, setiap aktivitas yang mengganggu keseimbangan sejumlah komponen tadi akan berdampak pada ekosistem. Sejauh ini, faktor antropogenik menjadi yang paling dominan lantaran ada banyak tindakan manusia yang memengaruhi keseimbangan ekosistem Bumi. Sebagai ilustrasi, selama ini, laju pertumbuhan penduduk di Bumi telah mendorong terjadinya pembabatan hutan demi menciptakan lebih banyak ruang bagi lahan-lahan pertanian maupun industri. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa [FAO], lebih dari 40 persen permukaan Bumi sekarang ini diperuntukkan bagi kepentingan pertanian. Padahal, sebagian besar lahan pertanian itu sebelumnya adalah hutan. Di saat yang sama, penambangan sumber daya alam seperti batubara, juga kebutuhan untuk pengembangan industri perkebunan, telah pula menyebabkan semakin luasnya konversi hutan menjadi non-hutan. Buntutnya, tiga miliar ton karbon dioksida [CO2] dilepaskan ke atmosfer setiap tahun, yang setara dengan penghancuran 13 juta hektar lahan hutan setiap tahun, sebagaimana dilaporkan oleh Union of Concerned Scientists. Tanpa cukup pohon untuk menyaring udara, tingkat karbon dioksida bakal kian meningkat, yang berpotensi merusak setiap organisme di Bumi. Baca Potret Bumi Kita Hari Ini Begini penampakan Bumi, planet yang kita tinggali. Foto NASA Di sisi lain, penggunaan berlebihan sumber daya tak terbarukan, seperti penggunaan bahan bakar fosil yang kaya karbon, ikut memperhebat kerusakan Bumi. Semakin banyak bahan bakar fosil yang digunakan berarti semakin besar pula emisi karbon yang dilepas ke udara, yang pada gilirannya ikut mengancam kepunahan ribuan spesies. Repotnya, hingga saat ini, sebagian besar dari kita masih terus bergantung pada bahan bakar fosil tersebut. Sejumlah sumber menyebut bahwa pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi sejak 1870 hingga 2013 telah melepaskan sekurangnya 400 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer. Akibatnya, suhu global cenderung meningkat, yang berimbas pada kenaikan permukaan laut dan peristiwa cuaca ekstrim seperti gelombang panas, banjir, tsunami, dan kekeringan. Kenaikan permukaan laut dan fenomena cuaca ekstrim pada gilirannya mengubah ekosistem laut dan daratan, serta memengaruhi rantai makanan dan keanekaragaman hayati, serta proses penggurunan [desertifikasi] yang intensif. Tentu saja, permasalahan yang mengancam Bumi tidak cuma berhenti di situ. Di luar hal-hal tadi, masih ada pula sampah plastik, perusakan terumbu karang, pencemaran sumber-sumber air, atau juga modifikasi genetik. Permasalahan-permasalahan itu perlu kita hadapi dan atasi bersama. Bagaimanapun, laju kerusakan Bumi harus sama-sama kita kurangi. Kita perlu mencari pilihan-pilihan yang lebih ramah lingkungan dalam melakukan berbagai aktivitas kehidupan. Tujuan utamanya, untuk merestorasi ekosistem Bumi kita. Baca juga “Hantu” Itu Bernama Perubahan Iklim Kawasan Ekosistem Leuser, hutan yang merupakan paru-paru dunia. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Restorasi tentunya membantu pemulihan ekosistem Bumi yang telah rusak atau hancur, serta melestarikan ekosistem yang masih utuh. Ekosistem yang lebih sehat, dengan keanekaragaman hayati yang lebih melimpah, bakal menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi kelangsungan kehidupan kita dan generasi penerus berikutnya. Pada intinya, semua jenis ekosistem dapat dipulihkan, termasuk hutan, lahan basah maupun lautan. Prakarsa restorasi dapat dilakukan oleh hampir semua kalangan, mulai pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, institusi bisnis, komunitas, maupun individu. Sinergi dan kolaborasi, dibarengi dengan kesamaan visi serta misi dari semua pemangku kepentingan, adalah kunci penting terlaksananya restorasi ekosistem, baik di level lokal, nasional, regional, maupun global. Bumi ini milik bersama yang akan kita wariskan kepada anak-cucu. Nasib kehidupan dan peradaban kita semua bergantung pada ekosistem Bumi yang sehat dan berkelanjutan. Menjaga, merawat, dan melindungi Bumi adalah tugas dan kewajiban kita semua. Siapa pun dari kita tidak boleh lalai melaksanakan tugas dan kewajiban mulia tersebut. *Djoko Subinarto, kolumnis dan bloger, tinggal di Bandung, Jawa Barat. Tulisan ini opini penulis. Rujukan Daniel Christian Wahl. A 2061 Timeline Restoring the Earth. 2021. Dave Egan, Evan Hjerpe & Jesse B Abrams. 2011. Why People Matter in Ecological Restoration. David Ian Stern & Robert K. Kaufmann. 2014. Anthropogenic and Natural Causes of Climate Change. Kanupriya Kapoor. 2021. Scientists Find Only 3% of Land Areas Unblemished by Humans. RJ Hobbs & Jim Arthur Harris. 2001. Restoration Ecology Repairing the Earth’s Ecosystems in the New Millennium. Why Earth Day is More Important than Ever. Artikel yang diterbitkan oleh ilustrasi Proses siklus oksigen secara sederhana adalah fotosintesis dan respirasi atau pernapasan. - Kids, apa saja fungsi siklus oksigen bagi kehidupan makhluk hidup di bumi? Siklus oksigen merupakan salah satu dari daur biogeokimia yang memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup di bumi. Siklus oksigen juga dipahami sebagai siklus atau daur dasar sebagian besar ekosistem yang melibatkan keseimbangan antara organisme yang melepaskan oksigen dan organisme yang menyerap oksigen. Nah, siklus oksigen juga berkaitan dengan siklus karbon, ya. Proses siklus oksigen secara sederhana adalah fotosintesis dan respirasi atau pernapasan. Melalui proses fotosintesis, tumbuhan merupakan penghasil sebagian besar oksigen yang kita hirup. Nah, pada proses ini pohon menggunakan karbondioksida, sinar matahari, dan air untuk menghasilkan energi. Tak hanya itu saja, proses fotosintesis pepohonan juga menghasilkan oksigen yang dilepaskan ke udara. Penguapan air oleh sinar matahari juga bisa menghasilkan oksigen meski dalam jumlah sedikit. Siklus oksigen sangat penting untuk mempertahankan kehidupan di planet Bumi. Ini dikarenakan oksigen merupakan zat vital bagi kebanyakan bentuk kehidupan. Baca Juga 7 Tahapan Siklus Oksigen yang Berperan Penting bagi Kelangsungan Hidup di Bumi Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan

keseimbangan yang memungkinkan kehidupan di bumi