JawabanBorobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala, tetapi dipercaya juga merupakan kelanjutan unsur lokal.
Candiborobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi? - 41823105 alifalfath20 alifalfath20 21.06.2021 Seni Sekolah Dasar terjawab Candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi? A. Ekspresi B. Estetis C. Spiritual D. Ekonomi E. Komunikasi 2 Lihat jawaban Iklan Iklan rafaeruramadan rafaeruramadan Jawaban:
DpF0v8. Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Surabaya31 Desember 2021 0234Hai Irema, kakak bantu jawab ya Jawaban yang benar dari pertanyaan tersebut yaitu ekspresi dan spiritual. Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala, tetapi dipercaya juga merupakan kelanjutan unsur lokal. Struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dari periode prasejarah Indonesia. Sebagai perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan mencapai Nirwana dalam ajaran Buddha. Motivasi candi borobudur dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Berdasarkan penjelasan tersebut, candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi ekspresi dan spiritual. Semoga membantu ya ^^
- Sejarah pembangunan Candi Borobudur diperkirakan berawal sejak abad ke-6 Masehi oleh Wangsa Sailendra. Candi Borobudur resmi dinyatakan sebagai warisan dunia World Heritage oleh UNESCO pada 1991. Kapan Candi Borobudur Dibangun?Bersama Candi Mendut dan Candi Pawon, Borobudur merupakan tempat yang digunakan untuk perayaan Waisak, sebuah acara ritual agama Buddha. Pendapat ini dicatat dalam Rapporten van den Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie ROD. Disebutkan, terdapat beberapa candi bercorak Hindu dan Buddha di sekitar Candi Borobudur. Candi Borobudur memiliki luas hektare. Wilayah cakupannya termasuk dalam Provinsi Jawa Tengah Magelang dan Daerah Istimewa Yogyakarta Kulon Progo. de Casparis dalam disertasinya pada 1950 menerangkan bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan Prasasti Karang Tengah dan Tri Tepusan, pendiri candi ini adalah pemimpin Mataram yang berasal dari Wangsa Syailendra bernama Samaratungga. Berdasarkan kedua prasasti tersebut, Syailendra adalah penganut Buddha, tepatnya aliran Mahayana. Hal ini dijadikan sebagai bukti bahwa Candi Borobudur digunakan oleh para pengikut agama yang yang dirintis oleh Sidharta Gautama Candi Borobudur Diperkirakan, Candi Borobudur dibangun pada 750-850 M. Dalam situs resmi Kemendikbud, tertulis bahwa pembangunan Candi Borobudur diduga dilakukan secara bertahap oleh tenaga kerja sukarela yang bergotong royong demi kebaktian ajaran agama pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Awalnya, pembangunan candi ini dimulai dengan meratakan daratan dan dipadatkan dengan batu. Setelah itu, didirikanlah tata seperti piramida. Namun, bentuknya diubah lagi. Langkah berikutnya, dibangunlah undakan persegi lalu ditambah undak melingkar. Setelah itu, terjadi lagi perubahan dengan menambahkan undakan melingkar dan memperlebar undakan pondasi. Pembangunan terakhir dilakukan sebagai penyempurnaan. Pada langkah ini, tangga diubah, pagar ditambahkan, dan kaki candi dilebarkan. Baca juga Sejarah Kutai Martapura dan Prasasti Kerajaan Tertua di Indonesia Sejarah Candi Prambanan Peninggalan Mataram Kuno, Warisan Dunia Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Lokasi, & Pusat Pengajaran Agama Buddha Penemuan Kembali Candi Borobudur Candi Borobudur sempat terbengkalai cukup lama. Diperkirakan, hal ini terjadi karena adanya erupsi Gunung Merapi pada 1006 yang menyebabkan warga di sekitar candi pindah ke wilayah lain. Penemuan kembali Candi Borobudur terjadi ketika era Thomas Stamford Raffles. Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada 1811 saat Kerajaan Inggris mengambil-alih wilayah yang diduduki 1814, seorang insinyur Belanda yang bekerja untuk Raffles bernama Hermanus Christiaan Cornelius untuk memeriksa sebuah bangunan besar yang tersembunyi di suatu tempat yang tak jauh dari pertemuan Sungai Elo dan Sungai situlah kemudian bangunan besar tersebut diketahui berwujud candi, dan itulah Borobudur yang setelah sekian lama terkubur akhirnya ditemukan Indonesia merdeka, pada 1955 pemerintah meminta bantuan kepada UNESCO untuk menangani masalah Candi Borobudur. Selanjutnya pada 1960, Borobudur dinyatakan dalam keadaan darurat dan UNESCO dilibatkan lebih aktif dalam upaya pelestarian ini. Upaya penyelamatan Candi Borobudur dilakukan secara besar-besaran sejak 1971. Hingga akhirnya, UNESCO memasukkan Candi Borobudur sebagai salah satu Situs Warisan Dunia pada Borobudur Jadi Tempat Ibadah Umat Buddha Sedunia Pemerintah pada Februari 2022 resmi mencanangkan Candi Borobudur menjadi tempat ibadah sedunia. Selain itu, pemerintah juga mencanangkan Candi Prambanan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Candi Pawon, dan Candi Mendut di Jawa Tengah menjadi tempat ibadah umat Hindu dan Buddha dari seluruh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, pemanfaatan Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon untuk tujuan keagamaan akan berfokus pada nilai-nilai spiritual dan pendidikan dari situs tersebut. Sri Sultan berharap masyarakat yang berkunjung tidak sekadar melihat aspek keindahan candi, tetapi juga kegiatan peribadatan yang dilakukan oleh umat Hindu dan Buddha.“Pemanfaatan dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek pelestarian cagar budaya dan nilai-nilainya serta tidak bertentangan dengan regulasi baik dari Pemerintah Indonesia maupun UNESCO,” kata Sultan seperti dikutip dari Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Adung Abdul Rochman, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, kebudayaan serta pariwisata. Melalui pencanangan ini, fungsi candi-candi tersebut akan mencakup kepentingan ritual merujuk tujuan awal Agama, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kementerian BUMN, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Pemprov DIY dan Pemprov Jateng menggelar penandatanganan Nota Kesepakatan MoU mengenai pemanfaatan empat candi tersebut menandai pencanangan ini pada 11 Februari 2022. - Sosial Budaya Kontributor Yuda PrinadaPenulis Yuda PrinadaEditor Iswara N RadityaPenyelaras Ibnu Azis
- Candi Borobudur memiliki relief-relief indah dan penuh makna. Relief yangterdapat di Candi Borobudur menggambarkan ajaran kehidupan Sang Buddha Gautama. Relief-relief tersebut menggambarkan suasana alam yang permai, perahu bercadik, bangunantradisional nusantara, dan lain di yakini memiliki relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Relief-relief tersebut terdapat di hampir semua tingkatan dinding, kecuali merupakan tingkatan yang paling atas yang menggambarkan kehidupan religiusdan spiritual tertinggi. Kehidupan religius yang mengagungkan perdamaian penuh keselamatan jiwa. Dua tingkatan sebelumnya, yaitu Kamadhatu kaki candi. Pada tingkatan ini digambarkankehidupan manusia penuh keburukan, nafsu, dan bergelimpang juga Jataka Mala, Kisah Kehidupan yang Tergambar di Relief Candi Borobudur Pada tingkatan di atasnya disebut Rupadhatu atau bagian tengah. Bagian ini melambangkankehidupan manusia yang telah terbebas dari hawa nafsu namun masih terikat denganhal-hal yang bersifat duniawi. Bagian Rupadhatu terdapat 4 undak teras berbentuk persegi yang dindingnya dihiasi relief. Sedangkan, tingkatan teratas adalah Arupadhatu yang melambangkan kehidupan religius. Tingkatan ini menggambarkan kehidupan Sang Budha yang telah mencapai kesempurnaan karena berani meninggalkan kehidupan duniawi. Pada bagian ini tidak dihiasi relief. Pahatan relief Candi Borobudur termasuk ke dalam jenis seni rupa murni, yang artinya tercipta untuk dinikmati keindahan dan keunikkannya saja. UNSPLASH/BILL FAIRS Ilustrasi Relief Candi Borobudur
Lukisan karya Hooijer yang dibuat sekira 1916—1919, merekonstruksi suasana di Borobudur pada masa jayanya. Wikipedia. Negeri Jawa dulu pasti punya sumber daya manusia yang melimpah untuk mengangkut, menyusun, dan memahat batu dengan terampil. Sumber daya pertanian berkecukupan untuk menyediakan pangan bagi para pekerja. Mereka juga pasti memiliki institusi yang terorganisir untuk mengawal pembangunan ambisius seperti Candi Borobudur. Melihat candi megah di Magelang, Jawa Tengah itu, terbayang kondisi ekonomi Jawa pada masanya telah surplus. Sehingga bisa membiayai pembangunan yang begitu besar bahkan tak memberi keuntungan ekonomi langsung. Lalu apa motivasi di balik pembangunan Candi Borobudur? Ide Borobudur John Miksic, peneliti dari Southeast Asian Studies Department, National University of Singapore dalam Borobudur Golden Tales of the Buddhas, menjelaskan Candi Borobudur lahir ketika agama Buddha tidak dalam keadaan tenang dan stabil. Sebaliknya, masa itu adalah periode kebangkitan intelektual yang intens. Selama abad ke-7 dan ke-8, peziarah Buddha yang berlayar melalui Indonesia semakin meningkat. Catatan yang ditinggalkan mereka menyebutkan bahwa Jawa dan Sumatra merupakan dua di antara pusat pendidikan Buddhis internasional selama periode itu. Dalam catatan mereka, tertera gambaran yang jelas tentang kegiatan penganut Buddha di pulau-pulau ini. Salah satunya tergambar dalam catatan Yijing atau I-Tsing, biksu Tiongkok yang mengunjungi Nusantara pada abad ke-7. Pada Desember 671, ia berlayar dari Kanton dan mampir di pelabuhan milik Sriwijaya di Sumatra. Di sana, ia menghabiskan enam bulan mempelajari bahasa Sanskerta. Dari sana ia berlayar ke India menggunakan kapal milik penguasa Sriwijaya. Di India, dia menghabiskan waktu 15 tahun belajar dan mengumpulkan kitab Buddha. Dalam pelayarannya pulang ke Tiongkok, ia kembali mampir di Sriwijaya pada 686. “Yijing melaporkan bahwa para biksu dari Sichuan dan Tonkin pergi ke Jawa untuk belajar di bawah bimbingan seorang guru India yang terkenal,” tulis Miksic. Kemudian ada Vajrabodhi, salah seorang pemikir Buddhis terpenting dari abad ke-8 yang lahir di Kanci, India Selatan pada sekira 706. Ia mempelajari dan mungkin merevisi dua teks, Mahavairocana dan Vajrasekhara. Keduanya sangat penting di Jawa. Ceritanya, sewaktu muda Vajrabodhi menerima instruksi supranatural untuk menyebarkan teks-teks itu ke Tiongkok. Dia berlayar ke Sumatra pada 717 dan melanjutkan ke Jawa. Dia masih berada di Jawa pada 718 ketika bertemu dengan seorang biksu Sri Lanka berusia 14 tahun bernama Amoghavajra. Amoghavajra yang datang ke Jawa dalam kunjungan dagang dengan pamannya. Ia kemudian menjadi murid Vajrabodhi dan menemaninya ke Tiongkok pada 719. Di Tiongkok, mereka menetap sampai kematian Vajrabodhi pada 741. Amoghavajra kemudian melakukan perjalanan lagi ke Jawa. Ia mengumpulkan tulisan suci baru untuk dibawa kembali ke Tiongkok dan diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa. Murid-murid di sana tertarik padanya. Salah satunya Huiguo 746-805 yang kemudian melanjutkan ajarannya. Di antara murid-muridnya ada yang berasal dari Jawa. “Berkat kontak budaya yang dipupuk oleh para peziarah semacam itu, agama Buddha menikmati periode popularitas yang singkat tapi intens di Jawa Tengah,” jelas Miksic. Umat Buddha, khususnya di Nusantara, kala itu begitu menghormati para guru yang membawa teori dan metode ajaran baru. Dari setiap guru dan setiap negeri yang mengembangkan metode ajaran baru itu kemudian membawa pada interpretasi tersendiri. Dalam hal ini, kata Miksic, Nusantara pasti punya kontribusi besar dalam penyebaran ajaran Buddhis yang mereka serap. Sayangnya hanya sedikit manuskrip Buddhis di Nusantara yang sampai ke masa sekarang. Tapi yang jelas, ide-ide itu berdampak penting pada seni dan arsitektur Buddhis yang berkembang di wilayah itu. “Terutama ketika bangunan suci mulai digunakan dalam upacara khusus untuk mempercepat pencapaian spiritual,” jelas Miksic. Saat rute perdagangan yang menghubungkan India dengan Jawa dan Sumatra dibuka, doktrin-doktrin itu berkembang pesat. Sumatra dan Jawa dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Buddhis Mahayana yang tersebar di sepanjang rute perdagangan maritim. “Ajaran yang diserap oleh orang Jawa dan Sumatra Kuno inilah yang kemudian memotivasi dan membentuk konstruksi bangunan seperti Candi Borobudur,” kata Miksic lagi. Simbol Politik Walaupun Borobudur dibangun dengan motif keagamaan, proyek sebesar itu tidak dapat menghindari aspek politik. Tak seperti di Sumatra yang pengaruh Buddhanya tetap sebagai yang utama untuk periode cukup lama. Pada masa Jawa Kuno, tradisi Buddha tak sepopuler Hindu. Kebanyakan candi dan arca didedikasikan untuk Siwa dan Wisnu, Kisah Ramayana dan Mahabharata begitu populer, bahkan hingga sekarang. Sementara ajaran Buddha berkaitan erat dengan dinasti yang berkuasa, yaitu Sailendra yang begitu dominan dalam perpolitikan Jawa Kuno pada abad ke-8. Pada masa keemasannya Candi Borobudur lahir, yaitu antara 750 dan 850. Itu sebagaimana dijelaskan arkeolog Soekmono dalam Chandi Borobudur. Lebih spesifik lagi, Edi Sedyawati dalam Candi Indonesia Seri Jawa menjelaskan kemungkinan candi ini berasal dari abad ke-9 berdasarkan bentuk huruf Jawa Kuno yang dipakai untuk menulis inskripsi pendek di atas panil relief Karmawibhangga, di dinding kaki Candi Borobudur. Data lainnya adalah Prasasti Karangtengah dan Sri Kahulunan. Dari sana de Casparis, epigraf asal Belanda, memperkirakan tokoh di balik pembangunan Borobudur. Dalam Prasasti Karangtengah terdapat keterangan seorang raja bernama Samaratungga. Putrinya, Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya serta bangunan Wenuwana. Casparis mengaitkan bangunan Wenuwana dengan Candi Mendut. Sementara Soekmono mengidentifikasinya sebagai Candi Ngawen atas dasar persamaan bunyi nama. Adapun bangunan yang disebut Jinalaya diduga merujuk pada Candi Borobudur. Baca juga Daoed Joesoef dan Borobudur Keterangan lainnya, Prasasti Sri Kahulunan, dikeluarkan pada 824. Di dalamnya disebut nama Sri Kahulunan sebagai tokoh yang menganugerahkan tanahnya di desa Tri Tepusan. Tujuannya untuk pemeliharaan tempat suci bernama Kamulan I Bhumisambhara, tempat asal Bhumisambhara. Nama Bhumisambhara kemudian dikaitkan dengan sebutan Borobudur pada masa sekarang. Adapun gelar Sri Kahulunan dihubungkan dengan Dyah Pramodhawardhani, putri Raja Samaratugga dari Dinasti Sailendra. Karenanya, menurut Casparis, sangat mungkin candi itu didirikan oleh Raja Samaratungga dan putrinya, Pramodhawarddhani. Mereka inilah yang mendukung pembangunan secara materi. Dibandingkan dengan kondisi di India dan di Tiongkok, pembangunan stupa terkadang dimotivasi oleh pertimbangan politik. Misalnya Raja Ashoka dari Dinasti Maurya yang membangun stupa sebagai tindakan kebajikan. Namun mungkin itu juga berfungsi sebagai simbol kedaulatan teritorialnya. “Puncak menara di bagian atas stupa sering dianggap sebagai paku yang secara fisik memungkinkan penguasa menjaga tanahnya stabil dan damai,” jelas Miksic. Konsep semacam itu di Jawa ditemukan pada dua kerajaan yang lebih modern. Ada Paku Alam di Yogyakata dan Paku Buwana di Surakarta. Baca juga Tan Jin Sing, Pembuka Jalan Pertama ke Candi Borobudur Bisa saja itu pula yang berlaku dalam kasus Borobudur. Ada legenda yang mempercayai kalau Gunung Tidar yang hanya berjarak beberapa kilometer dari candi itu adalah semacam “paku bumi Jawa”. “Kendati tak ditemukan jejak arkeologis di kawasan itu, sangat mungkin bahwa selain banyak fungsi lainnya, Borobudur juga berfungsi sebagai simbol kekuatan politik penguasa,” ungkap Miksic. Harus diakui penjelasan di balik pembangunan Candi Borobudur sejauh ini tak banyak didukung data. Edi Sedyawati bahkan menyatakan kalau tak ada keterangan pasti soal pendirian Candi Borobudur. Karenanya pembicaraan soal Borobudur belum akan usai.
Halo Arya,, kakak bantu jawab ya. Terima kasih sudah bertanya. Jawaban yang benar dari pertanyaan tersebut yaitu ekspresi dan spiritual. Cermati pembahasan berikut ini. Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala, tetapi dipercaya juga merupakan kelanjutan unsur lokal. Struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dari periode prasejarah Indonesia. Sebagai perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan mencapai Nirwana dalam ajaran Buddha. Motivasi candi borobudur dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Dengan demikian, candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi ekspresi dan spiritual. Semoga membantu ya.
candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi